Inilah Fakta Unik Burung Gereja

Diposting pada

Termasuk spesies burung yang mudah dikenali, lantaran habitat asli si burung gereja memang berdampingan dengan manusia. Bahkan dapat dikatakan, burung ini dapat ditemui di sekitar hutan ataupun tanah pertanian di seluruh dunia.

Hanya saja burung satu ini jarang sekali dipelihara atau bahkan tidak ada yang memeliharanya, lantaran aromanya yang kurang sedap. Berikut beberapa fakta menarik dari si burung mungil satu ini.

burung-gereja

Fakta Menarik yang Perlu Diketahui


1. Berukuran Mungil

Ciri-ciri burung ini memiliki ukuran tubuhnya yang mungil, bahkan lebih kecil dari genggaman tangan orang dewasa. Untuk ukuran burung dewasanya saja, hanya sekitar 10 hingga 15 cm saja tanpa ada penambahan kembali. Yang membuatnya semakin menggemaskan, bentuk tubuhnya yang gemuk nan berisi. Pada umumnya mereka memiliki warna cokelat kelabu, dengan paruh kecilnya yang tampak imut.

Perkembangbiakanburung gereja pun termasuk cepat, karena sekali bertelur mampu hasilkan 5 hingga 6 telur sekaligus. Cukup membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 hari pengeraman, telurnya akan menetas dan menghasilkan anakan. Walaupun semua telur tersebut menetas, hanya ada 2 atau 3 ekor saja yang dapat tumbuh hingga dewasa. Sedangkan sisanya meninggal, sebelum menginjak usia dewasa.

2. Hidup Secara Berkelompok

Habitat di alam liar, dikenal sebagai burung yang hidup secara berkelompok, bahkan ketika mencari makan pun mereka akan bergerak secara berkelopok. Ketika akan pergi mencari makan, mereka akan berkicau riang nan riuh didengarkan.

Saat berkicau mencari makan, bukan menjadi tanda bahwa mereka sedang bernyanyi senang. Namun kicauan tersebut memiliki arti, sebagai perebutan makanan antar kelompok.

Baca selengkapnya :  Tips Cara Merawat Burung Pelatuk Bawang Agar Cepat Gacor

3. Senang Bersarang Di Bangunan Tinggi

Lebih sering terlihat berkeliaran di sekitar manusia daripada jenis burung lainnya, karena mereka sangat senang membuat sarang di atas bangunan hunian. Tempat yang paling nyaman untuk membuat sarang menurut mereka, yaitu di bumbungan ataupun di lubang yang ada pada bangunan tinggi. Bahkan tidak jarang anda bisa melihatnya bertengger lalu bersarang pada hunian manusia.

Walaupun anda berusaha mengusirnya, ada kemungkinan burung gereja akan kembali menuju hunian anda. Sebab mereka tidak merasa takut akan keberadaan manusia, sebab habitat aslinya yang memang berdampingan. Banyak keluhan masyarakat lantaran atapnya seringkali dijadikan sarang oleh si burung berkoloni ini, namun mereka tidak bisa mengusirnya.

gereja-tarung

4. Miliki Aroma Kurang Sedap

Ketika anda mencoba untuk mendekatinya, anda pasti menyadari ada bau tidak sedap yang tiba tiba saja tercium oleh hidung. Bukan kesalahan dari indra penciuman anda yang mengalami gangguan, namun burung satu ini memang dikenal miliki aroma yang kurang sedap. Dari alasan tersebut, jarang atau bahkan tidak ada masyarakat yang ingin memeliharanya walaupun jumlahnya cukup berlimpah.

Tidak hanya karena aromanya yang kurang sedap, namun warna yang dimilikinya dirasa kurang memiliki nilai jual yang tinggi. Sebab warna yang dihasilkannya terlihat gelap dan sedikit kusam. Sehingga masyarakat pun membiarkannya berkeliaran di sekitar, tanpa adanya hasrat untuk memilikinya. Walaupun tidak dibudidayakan, nampaknya perkembangannya tetap stabil seperti biasanya.

5. Senang Bersarang Pada Gereja Yang Tinggi

Jika anda perhatikan, burung satu ini sangat senang bertengger di atas atap gereja. Tidak hanya sekedar bertengger, bahkan mereka menggunakannya sebagai hunian pribadi terbaik. Lebih banyak ditemukan di atas bangunan gereja, karena pada umumnya rumah ibadah ini memang dibuat menjulang ke langit dan cukup tinggi. Berawal dari kebiasaanya tersebut, akhirnya dirinya dijuluki sebagai burung gereja.

Baca selengkapnya :  Cara Menjinakkan Burung Parkit Yang Liar

Tinggal di sekitar lingkungan manusia, membuatnya mudah ditemui di berbagai tempat. Terutama ketika anda mengunjungi bangunan yang tinggi, ada kemungkinan bisa menemukan burung berkoloni satu ini. Hidup secara berkelompok, ketika salah satunya berkicau yang lain pun mengikuti. Dari kicauan merekalah, suasana kota menjadi lebih meriah daripada sebelumnya.

Walaupun burung ini masih dianggap sebagai burung liar, tidak sedikit para hobiis yang membutuhkan suara burung gereja yang memiliki tembakan crecetan khasnya untuk dijadikan sebagai burung masteran atau isian burung ocehan lainnya.